Jumpa lagi bareng gue yang makin eksis gan...
Emmh, hari ini gue lagi Galau, biasalah gan anak muda sering
pusing-pusing sendiri. Hehe. Terus terang gan, hari ini gue kecewa banget sama
diri gue, susah banget ngendaliin diri itu gan, walaupun udah banyak proses
yang gue jalanin tetep aja gan, sering konyol tingkah gue.
Oiye, gue pengen banget nyambung yang kemaren soalnya
kejadian ini bener-bener buat gue nggak bisa lupa seumur hidup gue. Dan
kejadian ini juga yang buat gue kayak yang sekarang ini, hehe apes banget sih
nasib gue :D
....
Waktu itu gue bener-bener gelap gan, sangat gelap. Tangan
gue masih menggenggam kuat kerah baju bokap gue, gue tarik dengan sekuat tenaga
gue hingga gue mepet kesudut ruangan rumah gue. Tangan gue udah mulai mengepal
sekuat tenaga, tatapan gue yang tajam menusuk ke bola mata bokap gue yang juga
tak berkedip memandang tajam kearah mata gue. Amarah gue bener-bener meluap
kala itu gan, gue juga nggak sadar air mata gue mengalir terus, sambil menahan
genggaman tangan gue yang dari tadi siap untuk melayang kewajah bokap gue,
(waktu itu tangan gue masih tertahan, dan gue beneran nggak mau melepaskan
pukulan itu gan). Entah bagaimana juga gue nggak tau kenapa gue tiba-tiba malah
berniat untuk menghabisi bokap gue sendiri. Padahal jelas waktu itu gue
bener-bener bisa nahan gan, sumpah gue beneran.
“Ayah tak berguna lo...!! mati aja lo...!!!!” teriak gue
sambil menarik sebuah obeng yang
terselip didekat gue. (gue juga nggak tau sejak kapan obeng itu berada disitu) Dengan tangan kiri yang memegang leher
bokap gue (Astaghfirullah celakalah saya) dan menahan gerakan bokap gue,
sementara tangan kanan gue melayangkan obeng
itu kearah perut bokap gue (sungguh saya adalah anak durhaka, mohon doakan saya
dari azab neraka yang menyala-nyala). Pandangan gue tiba-tiba gelap, tanpa
suara, tapi gue bisa melihat emak dan adik gue yang memegang erat tubuh gue,
sementara ayah gue dapat mencengkram lengan gue yang membawa obeng dan menahan gerakan gue. Sumpah
gan waktu itu pendengaran gue nggak berfungsi sama sekali, dan pandangan gue
jelas sekali hitam dan yang dapat gue liat Cuma bayangan berwarna putih yaitu
bokap, adik dan emak gue. Seolah-olah kalo dikaitkan kaya difilm NARUTO, persis kaya didalam genjutsu Uciha
Itachi gan. Persis banget, nggak ngarang gue. Sementara itu gan, tangan gue
malah terus-menerus memberi tekanan agar obeng itu bisa menusuk keperut bokap
gue. Bagaikan adu Panco,gue berusaha mengeluarkan seluruh tenaga gue untuk
mendorong lebih kuat, mungkin kayak gitulah perumpamaan yang tepat gan. dan
tangan gue perlahan bergerak maju, dan obeng itu mulai menyentuh baju yang
dipakek bokap gue. Terus adik dan emak gue yang dari tadi juga berusaha melerai
sambil menenangkan gue tiba-tiba meluk gue dari belakang dan menangis
sejadi-jadinya. Tangan gue terhenti, dan orang-orang mulai berdatangan. Ketika itu
yang paling utama datang adalah Uncu, dia berusaha melepaskan obeng itu dari tangan gue. Seketika gue
agak tenang, pandangan serta pendengaran gue mulai normal kembali, begitu ramai
dan ricuh. Suara tangis emak gue, adik gue buat gue sadar dan obeng itu terjatuh dari tangan gue. Gue lemes
gan, terus pas gue mau jatuh Uncu langsung merangkul gue dan bawa gue
kerumahnya. Gue diceramahin sama dia, dinasehatin dan dimarahin juga. “kenapa
jadi gini Zul? Bukan gini cara nyelesainnya. Kalo sempat ayahmu mati tadi,
terus kamu masuk penjara, terus ayah dan mamakmu berpisah, siapa yang ngurus
mamak dan adikmu nanti?? Coba kamu pikir!!” jelas uncu. Gue terdiam, dan nggak
begitu fokus dengan apa yang dibicarakan uncu waktu itu. yang jelas hari itu,
hari terakhir gue melihat ayah. Dan hari itu, pertama kalinya gue hidup tanpa
sosok seorang ayah disisi gue. Dihari itu juga, hari yang menjadikan gue sebagai
tulang punggung keluarga. Ayah gue pergi ninggalin gue, emak gue, tapi adik dia
bawa bersamanya. Gue sedih banget gan, keluarga gue pecah, berantakan dan
hancur gan, bener-bener hancur. kenapa ini bisa terjadi pada keluarga gue? Dan kenapa malah gue yang menanggung semua? Mulai
saat itu gue jadi sering menyendiri, terdiam, dan merenungi semua yang telah
menimpa gue, dan keluarga gue. Hari itu adalah pertama kalinya gue membenci ayah gue sendiri gan, ini benar-benar sebuah kehancuran dalam
hidup gue, kehancuran yang membawa gue menjadi sperti ini.......
haha......
SELANJUTNYA DI LEBIH
DARI SEORANG PEMIMPI “PENANGGUNG BEBAN”....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar