Kamis, 27 Agustus 2015

Terkadang Hidup Memilukan

Bahagia itu indah, jika sesuatu yang sederhana itu menjadi sempurna. Namun kesempurnaan itu hanyalah milik tuhan. Kita sebagai hamba senantiasa mengalami kekurangan. Beginilah hidup. Perputaran waktu yang membuat kita semakin kuat dan menjadi lebih kuat mempersiapkan diri mengahadapi masa yang akan datang.
Sudah hak seorang manusia mendapatkan ujian dalam kehidupannya. Dan tak boleh dipungkiri lagi, terkadang ujian itu terasa melebihi beban dan kesanggupan kita untuk menghadapinya. Dari setiap persoalan yang dihadapi ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Setelah kita dapat memahami makna dari persoalan itu, muncul persoalan yang baru lagi.
Tak terasa umurku sudah 22 tahun. Semua terasa terlewat begitu cepat. Saat ini aku berharap hidupku lebih baik dari sebelumnya. Betapa tidak, persoalan yang  kuhadapi bukanlah persoalan yang biasa dihadapi remaja sekarang. Dimana mereka disibukkan dengan perasaan, cinta dan kasih sayang dari lawan jenisnya. Persoalan yang kuhadapi seakan-akan persoalan seorang ayah yang sudah memiliki beberapa orang anak. Kadang aku merasa, aku belum pantas mendapatkan persoalan ini. Tapi hati ini berkata, “Hidup adalah persoalan”.
Beberapa waktu lalu, musibah menimpa keluarga kecilku. Ayahku sakit keras dan harus dibawa kerumah sakit. Diwaktu yang bersamaan ibuku kehilangan pekerjaannya. Tak hanya itu, diwaktu yang sama abangku menyatakan dirinya ingin menikah. Lain lagi dengan adikku yang sedang membutuhkan biaya yang besar untuk masuk keperguruan tinggi. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa tak berprestasi yang belum mempunyai pendapatan yang berarti. Aku merasa terbebani dengan persoalan ini. Aku teringat masa-masa tergelap ku 4 tahun yang lalu, dimana beban itu mulai menempel dalam hidupku. Entah ia tumbuh ataupun hidup, tapi aku benar-benar merasa beban itu mengakar dan terus menjalar kesetiap waktu dimana aku berada. Aku tak ingin terjatuh, aku mencoba terus bertahan dan berusaha untuk berjalan mencari jalan keluar untuk meletakkan beban itu. Aku tak menyerah, mencari cara agar aku bisa sampai kesebuah tempat yang aku yakini itu adalah sebuah “Pilar kebahagiaan”.
Pada masa-masa sulit itu, akhirnya selangkah telah terlewati. Keadaan ayahku mulai membaik. Abangku telah menikah. Dan adikku telah terdaftar sebagai calon mahasiswi disebuah perguruan tinggi. Aku sempat mengambil nafas panjang. “Alhamdulillah” pikirku. Aku mencoba kembali melangkah, dan anehnya aku merasa bebanku semakin berat. Sulit sekali rasanya untuk melangkah. Seolah-olah kaki kecilku ini tak mampu untuk menahan. Aku membungkuk, berusaha untuk tetap bertahan dan berdiri.
Aku sadar. Ternyata ada beban baru yang sudah menanti. Memang ayahku sudah baikan dan dibawa pulang, adikku calon mahasiswi, dan abangku calon seorang ayah nantinya. Dengan berat hati, aku berkata “Akulah calon kepala keluarga kalian, yang betanggung jawab untuk menafkahi kalian nantinya”. Betapa tidak, dikondisi ini ayahku tak dapat lagi bekerja, ibuku kehilangan pkerjaannya, sedangkan abangku sudah memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas keluarga barunya. Siapa lagi yang memikul beban ini jika bukan aku??
Menyadari itu air mataku mengalir dengan sendirinya. Apa yang harus kulakukan sementara aku belum memiliki pekerjaan yang berarti. Tekanan demi tekanan terus menimpaku, kaki kecilku tak kuat lagi menahan dan akhirnya terjatuh. Aku belum menyerah, “ini belum berakhir, aku pasti bisa” pikirku lagi. Aku mencoba bangkit, tanganku terus saja mencari sesuatu untuk bisa dijadikan pegangan. Berkat usaha yang keras, aku berhasil walaupun berpijak dengan sebelah kaki . Sesaat saja aku akan berdiri, tiba-tiba sesuatu menekanku dari atas. “ya Allah apa lagi ini”.
Belum lagi aku bisa menyelesaikan persoalan ini, muncul lagi persoalan baru. Disaat aku pusing memikirkan biaya hidup dimasa mendatang, ibuku mengagetkanku dengan sebuah berita.
“Nak, Ibu mau buat Walimahan untuk pernikahan abangmu. Ibu pengen keluarga kita semuanya ngumpul dalam acara itu nanti” ucap ibu.
Dengan nada yang lirih aku bertanya, “Ibu ada Uang??”
“nggak ada, itulah makanya ibu mau cari jalan keluarnya sama kamu” jawab ibu.
Langsung saja, tanpa basa basi aku menjawab “Bu, darimana kita bisa dapatkan uang, sedangkan kedepannya aja kita nggak tau gimana kehidupan kita.”
Mendengar jawabanku itu, ibuku menangis. Seakan-akan semangatnya menghilang. Sampai beberapa hari disela-sela waktunya aku melihat ia merenung dan menangis. “tak sampai hati pula aku meilhatnya” gumamku.
Akhirnya aku mendapatkan jalan keluarnya. Aku langsung menghubungi ibu dan memberi tahukan untuk mempersiapkan Walimahannya. Jelas saja, ibuku sangat bahagia. Meski begitu, inilah pertama kali aku merasa dapat tersenyum walau terjepit. Alhasil acara lancar tanpa ada hambatan.
Sehari setelahnya, musibah itu kembali datang. Istana kecilku dijamah orang. Aku tak habis pikir, kenapa aku bisa tidur begitu lelap sehingga sampah masyarakat itu bisa masuk kedalam rumahku. Uang dan telpon genggamku raib. “subhanallah, apa lagi ini”? pikirku lagi.
Mengetahui itulah beban yang menimpaku, seketika aku terjatuh dan tak tahu bagaimana cara untuk bisa bangkit dan berdiri lagi. Hanya, dalam khayalku, “semuanya baik-baik saja, aku masih punya mimpi yang akan kugapai”

~Hidup Masih panjang Bronds~