Kamis, 27 Agustus 2015

Terkadang Hidup Memilukan

Bahagia itu indah, jika sesuatu yang sederhana itu menjadi sempurna. Namun kesempurnaan itu hanyalah milik tuhan. Kita sebagai hamba senantiasa mengalami kekurangan. Beginilah hidup. Perputaran waktu yang membuat kita semakin kuat dan menjadi lebih kuat mempersiapkan diri mengahadapi masa yang akan datang.
Sudah hak seorang manusia mendapatkan ujian dalam kehidupannya. Dan tak boleh dipungkiri lagi, terkadang ujian itu terasa melebihi beban dan kesanggupan kita untuk menghadapinya. Dari setiap persoalan yang dihadapi ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Setelah kita dapat memahami makna dari persoalan itu, muncul persoalan yang baru lagi.
Tak terasa umurku sudah 22 tahun. Semua terasa terlewat begitu cepat. Saat ini aku berharap hidupku lebih baik dari sebelumnya. Betapa tidak, persoalan yang  kuhadapi bukanlah persoalan yang biasa dihadapi remaja sekarang. Dimana mereka disibukkan dengan perasaan, cinta dan kasih sayang dari lawan jenisnya. Persoalan yang kuhadapi seakan-akan persoalan seorang ayah yang sudah memiliki beberapa orang anak. Kadang aku merasa, aku belum pantas mendapatkan persoalan ini. Tapi hati ini berkata, “Hidup adalah persoalan”.
Beberapa waktu lalu, musibah menimpa keluarga kecilku. Ayahku sakit keras dan harus dibawa kerumah sakit. Diwaktu yang bersamaan ibuku kehilangan pekerjaannya. Tak hanya itu, diwaktu yang sama abangku menyatakan dirinya ingin menikah. Lain lagi dengan adikku yang sedang membutuhkan biaya yang besar untuk masuk keperguruan tinggi. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa tak berprestasi yang belum mempunyai pendapatan yang berarti. Aku merasa terbebani dengan persoalan ini. Aku teringat masa-masa tergelap ku 4 tahun yang lalu, dimana beban itu mulai menempel dalam hidupku. Entah ia tumbuh ataupun hidup, tapi aku benar-benar merasa beban itu mengakar dan terus menjalar kesetiap waktu dimana aku berada. Aku tak ingin terjatuh, aku mencoba terus bertahan dan berusaha untuk berjalan mencari jalan keluar untuk meletakkan beban itu. Aku tak menyerah, mencari cara agar aku bisa sampai kesebuah tempat yang aku yakini itu adalah sebuah “Pilar kebahagiaan”.
Pada masa-masa sulit itu, akhirnya selangkah telah terlewati. Keadaan ayahku mulai membaik. Abangku telah menikah. Dan adikku telah terdaftar sebagai calon mahasiswi disebuah perguruan tinggi. Aku sempat mengambil nafas panjang. “Alhamdulillah” pikirku. Aku mencoba kembali melangkah, dan anehnya aku merasa bebanku semakin berat. Sulit sekali rasanya untuk melangkah. Seolah-olah kaki kecilku ini tak mampu untuk menahan. Aku membungkuk, berusaha untuk tetap bertahan dan berdiri.
Aku sadar. Ternyata ada beban baru yang sudah menanti. Memang ayahku sudah baikan dan dibawa pulang, adikku calon mahasiswi, dan abangku calon seorang ayah nantinya. Dengan berat hati, aku berkata “Akulah calon kepala keluarga kalian, yang betanggung jawab untuk menafkahi kalian nantinya”. Betapa tidak, dikondisi ini ayahku tak dapat lagi bekerja, ibuku kehilangan pkerjaannya, sedangkan abangku sudah memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas keluarga barunya. Siapa lagi yang memikul beban ini jika bukan aku??
Menyadari itu air mataku mengalir dengan sendirinya. Apa yang harus kulakukan sementara aku belum memiliki pekerjaan yang berarti. Tekanan demi tekanan terus menimpaku, kaki kecilku tak kuat lagi menahan dan akhirnya terjatuh. Aku belum menyerah, “ini belum berakhir, aku pasti bisa” pikirku lagi. Aku mencoba bangkit, tanganku terus saja mencari sesuatu untuk bisa dijadikan pegangan. Berkat usaha yang keras, aku berhasil walaupun berpijak dengan sebelah kaki . Sesaat saja aku akan berdiri, tiba-tiba sesuatu menekanku dari atas. “ya Allah apa lagi ini”.
Belum lagi aku bisa menyelesaikan persoalan ini, muncul lagi persoalan baru. Disaat aku pusing memikirkan biaya hidup dimasa mendatang, ibuku mengagetkanku dengan sebuah berita.
“Nak, Ibu mau buat Walimahan untuk pernikahan abangmu. Ibu pengen keluarga kita semuanya ngumpul dalam acara itu nanti” ucap ibu.
Dengan nada yang lirih aku bertanya, “Ibu ada Uang??”
“nggak ada, itulah makanya ibu mau cari jalan keluarnya sama kamu” jawab ibu.
Langsung saja, tanpa basa basi aku menjawab “Bu, darimana kita bisa dapatkan uang, sedangkan kedepannya aja kita nggak tau gimana kehidupan kita.”
Mendengar jawabanku itu, ibuku menangis. Seakan-akan semangatnya menghilang. Sampai beberapa hari disela-sela waktunya aku melihat ia merenung dan menangis. “tak sampai hati pula aku meilhatnya” gumamku.
Akhirnya aku mendapatkan jalan keluarnya. Aku langsung menghubungi ibu dan memberi tahukan untuk mempersiapkan Walimahannya. Jelas saja, ibuku sangat bahagia. Meski begitu, inilah pertama kali aku merasa dapat tersenyum walau terjepit. Alhasil acara lancar tanpa ada hambatan.
Sehari setelahnya, musibah itu kembali datang. Istana kecilku dijamah orang. Aku tak habis pikir, kenapa aku bisa tidur begitu lelap sehingga sampah masyarakat itu bisa masuk kedalam rumahku. Uang dan telpon genggamku raib. “subhanallah, apa lagi ini”? pikirku lagi.
Mengetahui itulah beban yang menimpaku, seketika aku terjatuh dan tak tahu bagaimana cara untuk bisa bangkit dan berdiri lagi. Hanya, dalam khayalku, “semuanya baik-baik saja, aku masih punya mimpi yang akan kugapai”

~Hidup Masih panjang Bronds~

Rabu, 13 Agustus 2014

Cinta itu tak Pernah hilang



Apa yang akan kalian lakukan  jika sedang teramat sangat merindukan seseorang yang begitu berarti dalam hidup kalian? Mungkin kalian pernah merasakannya. Sama seperti apa yang aku rasakan saat ini. Kawan-kawan, dapatkah kalian mengetahui semua tentang aku dan dia? Begitu sering aku ceritakan sosoknya yang begitu aku impi-impikan. Kalian boleh katakan aku “lebay” malam ini. Karena memang mungkin aku terlalu alay untuk hal semacam ini. Tapi kalian tau bagaimana aku selama ini menjalani hidup tiga tahun terakhir penuh dengan masalah yang terus membayangi kemanapun aku melangkah. Hanya saja malam ini, bukan itu yang aku permasalahkan.
Cinta, seolah-olah membuat ku terus yakin untuk menjadi yang terbaik. Aku terus mencari sesuatu yang sangat sulit kudapatkan. Dan hanya ada seseorang yang tau itu apa. Seseorang yang terus membuatku mendambakan kehadirannya.
“Aku tak dapat membuang perasaan ini seperti yang kau inginkan. Dan aku mengerti, semua yang kau lakukan itu benar. Kau juga berusaha menjadi seorang wanita yang terbaik. Aku sangat menghargai itu. Tapi aku hanyalah seseorang yang berpikir kekanak-kanakan, menganggap ini adalah sebuah lelucon ketika kita bersama-sama dimasa lalu. Kini aku benar-benar tidak sanggup menahan perasaan ini setelah benar-benar kehilangan dirimu. Aku tak bisa menemukan jejakmu lagi. Kau benar-benar pergi dari hidupku. Semua nomer telah beberapa kali ku coba untuk menghubunginya, tapi tetap saja semua nomermu sudah tidak aktif. Dulu aku berusaha agar menjaga dirimu tetap dalam jangkauanku. Aku berikan nomermu kepada seseorang yang semahram denganmu, seperti yang kamu mau. Aku berharap dari mereka agar aku bisa tau keadaanmu saat ini.
Fa, kamu ingatkan apa yang pernah aku katakan sama kamu? “dalam menjalani hidup ini aku hanya mencari kebahagiaan, dan kebahagiaan terindah itu adalah kamu”. Itulah yang aku cari selama ini. Dan aku tak hanya sekedar berkata-kata,selama ini aku berusaha untuk mewujudkan itu. Kamu pernah berkata, “carilah yang lebih baik dari saya, karena diluar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari saya”. Aku telah melakukan itu dan sampai saat ini aku belum juga menemukan seperti perkataanmu. Aku tlah berputus asa, karena bagaimanapun dirimu yang tetap menjaga hatiku. Dirimu slalu yang ada dihatiku. Fa, aku hampir selesai dengan urusanku. Dan aku bersungguh-sungguh ketika berjanji kepadamu untuk menemuimu  sampai pada waktu yang telah kita tentukan. Fa, waktuku hanya tinggal 2 tahun lagi untuk menepati janji itu. Aku sudah mempersiapkan untuk semua itu fa.
Aku mengerti fa, semua ini memang berawal dari kesalahanku. Aku memang payah fa, aku akui itu. Aku mohon fa, beri aku kesempatan untuk mewujudkan semua. Beri aku kesempatan untuk bisa sampai pada waktu itu. Semua orang tau, aku hanya berharap bersamamu...”
Aku sangat merindukanmu,...!!

Selasa, 06 Mei 2014

Pantaskah Aku Menjadi Anakmu??

Jumpa lagi bareng gue yang makin eksis gan...
Emmh, hari ini gue lagi Galau, biasalah gan anak muda sering pusing-pusing sendiri. Hehe. Terus terang gan, hari ini gue kecewa banget sama diri gue, susah banget ngendaliin diri itu gan, walaupun udah banyak proses yang gue jalanin tetep aja gan, sering konyol tingkah gue.
Oiye, gue pengen banget nyambung yang kemaren soalnya kejadian ini bener-bener buat gue nggak bisa lupa seumur hidup gue. Dan kejadian ini juga yang buat gue kayak yang sekarang ini, hehe apes banget sih nasib gue :D
....
Waktu itu gue bener-bener gelap gan, sangat gelap. Tangan gue masih menggenggam kuat kerah baju bokap gue, gue tarik dengan sekuat tenaga gue hingga gue mepet kesudut ruangan rumah gue. Tangan gue udah mulai mengepal sekuat tenaga, tatapan gue yang tajam menusuk ke bola mata bokap gue yang juga tak berkedip memandang tajam kearah mata gue. Amarah gue bener-bener meluap kala itu gan, gue juga nggak sadar air mata gue mengalir terus, sambil menahan genggaman tangan gue yang dari tadi siap untuk melayang kewajah bokap gue, (waktu itu tangan gue masih tertahan, dan gue beneran nggak mau melepaskan pukulan itu gan). Entah bagaimana juga gue nggak tau kenapa gue tiba-tiba malah berniat untuk menghabisi bokap gue sendiri. Padahal jelas waktu itu gue bener-bener bisa nahan gan, sumpah gue beneran.
“Ayah tak berguna lo...!! mati aja lo...!!!!” teriak gue sambil menarik sebuah obeng yang terselip didekat gue. (gue juga nggak tau sejak kapan obeng itu berada disitu) Dengan tangan kiri yang memegang leher bokap gue (Astaghfirullah celakalah saya) dan menahan gerakan bokap gue, sementara tangan kanan gue melayangkan obeng itu kearah perut bokap gue (sungguh saya adalah anak durhaka, mohon doakan saya dari azab neraka yang menyala-nyala). Pandangan gue tiba-tiba gelap, tanpa suara, tapi gue bisa melihat emak dan adik gue yang memegang erat tubuh gue, sementara ayah gue dapat mencengkram lengan gue yang membawa obeng dan menahan gerakan gue. Sumpah gan waktu itu pendengaran gue nggak berfungsi sama sekali, dan pandangan gue jelas sekali hitam dan yang dapat gue liat Cuma bayangan berwarna putih yaitu bokap, adik dan emak gue. Seolah-olah kalo dikaitkan kaya difilm  NARUTO, persis kaya didalam genjutsu Uciha Itachi gan. Persis banget, nggak ngarang gue. Sementara itu gan, tangan gue malah terus-menerus memberi tekanan agar obeng itu bisa menusuk keperut bokap gue. Bagaikan adu Panco,gue berusaha mengeluarkan seluruh tenaga gue untuk mendorong lebih kuat, mungkin kayak gitulah perumpamaan yang tepat gan. dan tangan gue perlahan bergerak maju, dan obeng itu mulai menyentuh baju yang dipakek bokap gue. Terus adik dan emak gue yang dari tadi juga berusaha melerai sambil menenangkan gue tiba-tiba meluk gue dari belakang dan menangis sejadi-jadinya. Tangan gue terhenti, dan orang-orang mulai berdatangan. Ketika itu yang paling utama datang adalah Uncu, dia berusaha melepaskan obeng itu dari tangan gue. Seketika gue agak tenang, pandangan serta pendengaran gue mulai normal kembali, begitu ramai dan ricuh. Suara tangis emak gue, adik gue buat gue sadar dan obeng itu terjatuh dari tangan gue. Gue lemes gan, terus pas gue mau jatuh Uncu langsung merangkul gue dan bawa gue kerumahnya. Gue diceramahin sama dia, dinasehatin dan dimarahin juga. “kenapa jadi gini Zul? Bukan gini cara nyelesainnya. Kalo sempat ayahmu mati tadi, terus kamu masuk penjara, terus ayah dan mamakmu berpisah, siapa yang ngurus mamak dan adikmu nanti?? Coba kamu pikir!!” jelas uncu. Gue terdiam, dan nggak begitu fokus dengan apa yang dibicarakan uncu waktu itu. yang jelas hari itu, hari terakhir gue melihat ayah. Dan hari itu, pertama kalinya gue hidup tanpa sosok seorang ayah disisi gue. Dihari itu juga, hari yang menjadikan gue sebagai tulang punggung keluarga. Ayah gue pergi ninggalin gue, emak gue, tapi adik dia bawa bersamanya. Gue sedih banget gan, keluarga gue pecah, berantakan dan hancur gan, bener-bener hancur. kenapa ini bisa terjadi pada keluarga gue?  Dan kenapa malah gue yang menanggung semua? Mulai saat itu gue jadi sering menyendiri, terdiam, dan merenungi semua yang telah menimpa gue, dan keluarga gue. Hari itu adalah pertama kalinya gue membenci ayah gue sendiri gan, ini benar-benar sebuah kehancuran dalam hidup gue, kehancuran yang membawa gue menjadi sperti ini.......
 haha......
SELANJUTNYA DI LEBIH DARI SEORANG PEMIMPI “PENANGGUNG BEBAN”....

Sabtu, 03 Mei 2014

Ayah...

Dengan semangat yang luar biasa, tiada henti gue menyapa agan dan aganwati sekalian. gimana kabar lo hari ini gan? mudah-mudahan baik ya gan. akhir-akhir ini gue semangat banget gan. Hehe. Okedeh kita lanjutin cerita kemarin, Kalo pos yang lalu menceritakan sebuah nama, kali ini  gue bakalan sambung cerita kita dengan judul "Ayah"....
waktu itu gue bangga banget jadi Marlaw, perasaan gue dengan penampilan yang mirip kaya bandit itu bener-bener keren banget gan. Kan waktu itu gue udah akrab dengan minuman beralkohol itu gan, dan temen-temen gue juga bertambah banyak dipelosok tempat tinggal gue. Dan semua temen gue itu rata-rata peminum, pecandu Narkoba, pejudi dan sebagainya gan. Pada suatu ketika gue lagi asyik merokok ni gan bareng temen gue, tapi temen gue itu rokoknya agak berbeda dari gue. Dan gue tau kalo dia memang lagi ngisap ganja, memang itu udah biasa bagi gue tapi mungkin karena dia nggak pernah liat gue makek yang namanya Narkoba atau semacamnya dia malah cobain gue sama ganja itu gan. "boy, barter rokok kita yok...??? abis narik lo pasti santai bawaannya". Ucap temen gue itu. (sebut aja Engkong). "Haha, nggak lah kong!! rokokni masih cukup bawa ketenangan buat gue kong.." jawab gue santai. "Alah coba aja dulu... ini ambil tes terus...." paksanya sambil menyodorkan rokok campur itu. gue sih ragu, karena gue memang bener-bener nggak pernah makek ganja, paling parah gue cuma mabuk minuman sama Dextro, dan nggak lebih dari itu dan nggak pernah juga bermain sama ganja, shabu de es be ge lah.
jadi pas gue mau ngambil rokok yang berisi ganja itu tiba-tiba terlintas dikepala gue kata-kata ini "Zul... sekarang udah saatnya mamak kasi tau. Sekarang Izul udah besar, pasti banyak yang bakalan Izul hadapi nanti. cuma pesan mamak nggak banyak, cuma empat ni aja yang harus Izul ingat. pertama Izul jangan merokok, yang kedua Izul jangan mabuk, yang ketiga Izul jangan sekali-kali makek Narkoba. Dan yang terakhir Izul jangan main perempuan, carilah perempuan yang taat dan sholehah."
Gue tertunduk lemas setelah ingat kata-kata emak gue itu gan, waktu itu emak gue ngingatin pas keadaan dirumah masih netral gan jadi gue yakin nggak bakalan terjebak dalam empat hal itu, eh nggak disangka gue malah melanggar perkataan emak gue itu. waktu itu gue mulai sadar bahwa semua yang udah gue lakuin itu adalah kesalahan terfatal dalam hidup gue. tapi beruntung karena gue baru melanggar dua poinnya aja dan berharap kedepannya nggak akan terulang lagi masa-masa gue yang kaya gini. Gue langsung pulang gan, gue pengen cepet-cepet minta maaf dan mengakui semua perbuatan gue itu sama emak gue, dan sama ayah gue, dan gue bener-bener berharap keluarga gue bakalan utuh kaya dulu lagi. Tapi nggak disangka gan, keadaan malah makin memburuk. Belum sampai diumah gue udah dijegat sama paman gue (adik mamak gue) yang rumahnya bersebelahan sama rumah gue. Gue akrab manggilnya Uncu. jadi waktu itu gue dipanggil kerumahnya, pas gue masuk gue liat emak gue udah berada disitu, menangis dan tiba-tiba meluk gue. gue heran apa yang sebenarnya terjadi. Terus dijelasin sama uncu gue, barulah gue mengerti. gue bener-bener merasa bersalah banget sama emak gue, selama ini gue selalu cuek dengan masalah yang sedang dihadapi beliau. "Zul, kamu udah besar jadi kamulah yang bisa diharapkan untuk melindungi mamakmu. Abangmu nggak ada disini, jadi kamulah yang bisa nyelesain perkara ni." ucap uncu sambil memberi tatapan serius kearah gue. "Zul..., kalo mamak sama ayah pisah, Izul mau ikut siapa" potong emak tersedu sambil mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya. belum lagi gue jawab, masih termenung dan terbungkaam, tiba-tiba... " ya pilih mamakmulah Zul, betul  kata uncumu itu, kamulah yang bisa diandalkan. kalo misalnya mamak dan ayahmu jadi berpisah, maka kamulah yang bisa diharapkan untuk menjadi tulang pungggung keluarga.". sahut Bibi (istri uncu). "mungkin kedepan nanti, bakalan besar tanggung jawabmu Zul, sekolahmu juga terancam putus, tapi setidaknya adekmu harus bisa tetap sekolah, dan kamulah yang menggantikan ayahmu untuk menyekolahkan adekmu. Karena ayahmu itu udah nggak pantas lagi menjadi ayah kalian. tapi tenang aja, uncu bakalan membantu kalian, uncu bantu kalo kalian nggak ada sesuatu untuk dimakan" tegas uncu. Dada gue terasa sesak, nafas gue nggak beraturan lagi, dan bener-bener sakit pada bagian dada gue, dan rasanya sulit banget untuk bernafas. "Zul, terserah Izul mau pilih sama siapa, tapi mamak udah nggak tahan sama ayahmu, mamak udah putuskan untuk berpisah aja sama ayahmu." sambung emak gue lagi. Makin sesak nafas gue gan, gimanapun gue nggak pernah terbayang keluarga gue bakalan berantakan kaya gini, gue bener-bener bingung. "Izul nggak milih siapa-siapa mak, Izul bakalan hidup sendiri kalo mamak berpisah sama ayah" ucap gue. Tapi perkataan gue itu nggak bisa terlepas dari bibir gue, seolah kata-kata itu tertahan dalam hati gue, dan bener-bener gue nggak bisa untuk berkata sepatah katapun saat itu. Terus gue keluar dari rumah itu dan pergi tanpa tujuan kemana kaki melangkah. Karena benar-benar tertekan dengan keadaan itu, gue mabuk lagi, gue minum sebanyak-banyaknya untuk ngilangin perasaan gelisah gue. Hingga gue nggak merasakan apa-apa lagi, gue terkapar tak berdaya dibawah sebuah pohon, saking mabuk beratnya gue. Pas azan maghrib berkumandang barulah gue sadar dari tidur gue, pala gue masih terasa pusing, dan gue masih belum begitu sadar dengan yang gue lakuin. Terus gue pulang masih dalam keadaan mabuk. Sesampainya dirumah gue liat ayah gue lagi duduk dikursi tamu. Emak gue menyendiri dibelakang. langsung aja, tanpa basa-basi... "Kemana aja seharian nggak pulang yah? dah hebat kali apa?" sapa gue dengan nada yang aneh. "Kerumah perempuan mana yang ayah singgahi barusan? hah?" sambung gue lagi. belum juga dijawab, dan gue nggak beri kesempatan sama ayah gue untuk menjawab... "Pikir pakek otak, lo punya istri dirumah, dan anak lo juga udah gedek! kalo kaya gini tingkah lo, nggak pantes lo jadi ayah gue!. sentak gue. tiba-tiba emak dan adik gue dateng karena denger ribut-ribut didepan. Terus ayah gue bangun dari duduknya sambil menunjuk kearah emak gue, "Kenapa rupanya hah? kalo kerumah perempuanpun aku siapa yang berani marah? mamakmu ini?" jawabnya lantang. Langsung naik deh emosi gue gan, ditambah lagi keadaan gue masih mabuk jadi gue nggak punya pemikiran yang panjang sebelum melakukan tindakkan gan. to the point aja gan, gue tarik kerah baju bokap gue itu dan gue seret ke tempat yang agak terbuka terus....to be continued........ (hati gue bener-bener gelap, dan gue sangat membutuhkan cahaya waktu itu)

Jumat, 02 Mei 2014

Panggil Aku Marlaw

Apa kabar agan-agan sekalian?? Maaf gue telat untuk postingan akhir-akhir ini, gue sibuk banget soalnya. Lo tau nggak gan hari ini gue seneng banget, perlahan usaha gue berujung sempurna. Yang mana selama ini gue belajar untuk ngendaliin diri, berusaha menahan nafsu, pandangan, ucapan, emosi serta selalu tersenyum disetiap orang pada mojokin gue akhirnya berhasil gan. Hehe.
Okedeh kita lanjutin kisah kita. Hari ini kita akan mengungkap apakah makna dari “MARLAW” itu sebenarnya. Jadi pada waktu itu gan gue memang bener-bener hilang kendali. Dari yang pertamanya gue hanya sekedar merokok, sejak itu gue mulai akrab dengan pil “Anjing” favorit gue. Hehe lo taukan maksud gue pil anjing itu apa? Itu loh gan, pil Dextro yang gue bilang kemaren... haha
Terus saking gue tergantungnya sama pil anjing itu, sampean gue lupa sama diri gue, sama waktu gue, sama aktivitas gue, sama pekerjaan gue, sama sekolah gue, bahkan sama keluarga gue. Kalo sama Tuhan mah, waktu itu gue nggak ingat sama sekali (Na’uzubillahi min zaalik!! semoga Allah menerima taubat gue) . Ampun deh gue, betapa hancurnya gue waktu itu. gue malah buat jadwal rutin gue kaya orang yang lagi sakit. Setiap pagi gue minum 5 butir pil anjing, terus pulang sekolah gue minum lagi, dan malamnya gue nambah dosisnya menjadi 10 butir biar fly nya lebih berasa dan tahan lama. Akhirnya sampailah gue pada sesuatu yang buat gue gemeteran minum pil anjing. Iya gemeteran beneran maksud gue. Tubuh gue lemes, pala gue kaya dijepit sama beban 100kg sakitnya ampun banget. Terus yang paling berasa gemeternya dimulut gue, rasanya persis kaya kita lagi sendawa soda. GGggRRRrrrRRR hehe. Bawaannya mau muntah serasa mulut kaya berbuih, tapi pas dimuntahin nggak ada sesuatupun yang keluar dari mulut gue. Dan psikologi gue parah banget, mirip kaya orang gila ketawa dan senyum-senyum sendiri. Pernah pada suatu malam waktu itu temen gue ada yang pesta sunatan adiknya. Jadi karena malam itu ada hiburan Keyboardbandnya gue paksain banyak-banyak minum pil anjing itu dan banyakin minum Scott favorite gue. Ya singkat cerita, malam itu gue bener-bener mabuk berat gan. Gue nggak sadar gue siapa dan anak siapa dan dimana gue berada. Yang ada dipikiran gue adalah siap untuk bergoyang sembari menunggu musik yang akan dimainkan pemain Keyboard itu. sial bukan kepalang gan, baru satu music house dimainkan dan gue sedang fly-fly nya ni, eeeh hujan malah turun gan. Lengkap sama-sama kilat, petir dan anginnya gan. Karena mereka nggak sediain genset, Keyboard akhirnya berhenti bermain dikarenakan mati lampu gan. Sumpah kecewa banget gue. Padahal gue lagi asik joget juga, lagi asik-asinya bergoyang bareng temen gue, lagi seneng-senengnya gue malah jadi garing gitu. Akhirnya karena gue ngerasa pala gue mulai pusing, gue cari tempat duduk, terus pas mau duduk gue liat dari kegelapan temen gue masih megang leher botol sambil neguk minuman favorite gue itu, lari lagi gue kesana nyamber boto itu terus gue tenggak sampai habis. Abis itu gue berjalan nggak karuan lagi gan, nabrak-nabrak gitu deh. Sampe-sampe gue udah nggak sanggup lagi berjalan, terus tiba-tiba gue lagi berada didepan pelaminan. Hehe kebetulan banget kan gan, gue dapet kursi yang empuk, langsung deh gue duduk dan seluruh tubuh gue langsung terhempas diatas kursi pelaminan itu. gue nggak sanggup ngeliat apa-apa lagi. Pala gue bener-bener pusing waktu itu, perut gue juga mual. Sampe beberapa lama tiba salah seorang temen gue yang lagi mabuk juga ngejekin gue karena gue udah tenggen, mabuk berat, jadi dia ngetawain gue. Hehe gue nggak perduli lagi karena gue udah nggak sadar lagi waktu itu. yang gue ingat pas gue bangun temen gue udah tinggal dikit, temen-temen setongkrongan gue udah pada pulang duluan. Karena gue liat hujan juga udah reda, dan keyboardbandnya juga nggak main lagi karena udah jam 01.00 gue paksain pulang dalam keadaan oleng berjalan ditengah malam yang gelap itu seorang diri. Setibanya didepan rumah gue, gue nggak tau lagi dimana letak jembatan yang menutupi parit didepan rumah gue . gue hajar aja menyeberangi parit itu seolah-olah gue lagi nginjak jembatannya, eh gue malah nyemplung kedalam parit itu gan. Karena baru hujan jadi airnya penuh, gue minta tolong karena yang gue pikir gue tenggelam ditengah sungai... haha maklum aja gan, namanya juga lagi mabuk. Pas gue berhenti dari panik gue, baru gue sadar kalo gue lagi berada ditengah-tengah parit rumah gue. Gara-gara nyemplung emak gue jadi nggak tau kalo gue pulang dalam keadaan mabuk, pas ditanya “kenapa kamu basah kuyup begini?”, “tadi kepleset terus nyemplung keparit mak” gue bilang. Gue sambil buang muka pas ngomongnya, soalnya gue takut emak gue curiga gue lagi mabuk dengan bau mulut gue yang asem dan khas. Hehe
Keesokkan harinya si Cicak memproklamirkan dirinya sebagai marlaw, gue nggak tau marlaw itu apa, terus Cicak jelasin kegue kalo Marlaw itu adalah gelar untuk seorang Bandit kaya gue. Terus gue tanyak “eh cak, kira-kira gue udah jadi marlaw belum?”, kemudian cicak deketin gue, “Kita adalah Marlaw boy, mulai sekaranga Panggil Aku Marlaw.....” ucapnya.
sejak hari itu, dimanapun gue berada, baik itu disekolah, gue memproklamirkan diri gue seorang Marlaw....
***
SELANJUTNYA DI LEBIH DARI SEORANG PEMIMPI...
“AYAH”

Selasa, 29 April 2014

Sisi Gelap



Apa kabar gan...????
Hehe, gue harap hari ini lo masih semangat jalanin aktivitas lo meski terik yang begitu panas hari ini...
Sorry gue telat posting, sibuk banget gue hari ini. Kuliah aja gue telat. Nggak biasanya gue telat kaya gini. Hehe
Okedeh lanjutin postingan kemaren. Sebelumnya udah gue ceritain beberapa masa lalu gue dan pada postingan kali ini gue bakalan ceritain efek dari masalah yang sedang gue hadapin itu. karena waktu itu gue begitu tertekan dengan semua yang terjadi pada gue, dan keluarga gue, gue coba cari temen yang bisa denger curhat gue. Tapi sayang gan, gue salah dalam melangkah. Pengaruh lingungan juga sih. Temen yang gue dapetin memang bisa buat gue lupa ama masalah gue, tapi gue kehilangan diri gue yang sebenarnya.
Pertama gue sih nggak berani ngelakuinnya, tapi lama-lama gue penasaran ngeliat mereka, kenapa setelah itu bawaan mereka jadi berubah. Mereka terlihat begitu santai,  ceria, tertawa, enjoy... pokoknya mereka hepi deh gan. Nggak pernah galau kaya gue. Karena gue bener-bener penasaran sama mereka jadi gue beranikan diri gue untuk mencoba.  Siapa tau dengan itu gue bisa ngelupain masalah gue, so gue bisa jadi tenang, bisa enjoy dan senang-senang bareng mereka.
Pertama kali gue mencoba pada malam tahun baru gan. Waktu itu temen gue ada yang baru balik dari Medan, gue biasa panggil dia “Cicak”. Dia bawa sesuatu yang mencurigakan. Bentuknya kayak pil gitu. Dia bilang ama gue kalo udah minum pil ini kita bisa terbang. Gue sih nggak percaya, dan dalam pikiran gue itu adalah Narkoba. Pas gue selorohin.. “eh cak, ntar elo gol dipenjara minum-minum gitu”. Terus dia ketawa sambil ledekin gue. “haha zull zul, kuno banget sih lo hah?? Siapa yang berani nangkap aku? Ini aja belinya di apotik. Kalo lo nggak percaya besok gue ajak elo belinya diapotik.”. gue bengong, antara percaya dan nggak percaya, tapi gue masih penasaran kok mereka bisa terbang dengan pil ini. “yaudah besok gue bakalan ikut elo cak, kalo itu bener dapetnya di apotik gue mau makek juga.”. dalam hati gue, “kalo belinya di apotik berarti bukan Narkoba, kalopun gue makek pasti nggak ada yang mau nagkep gue”.
Keesokkan harinya gue pergi untuk beli pil itu. dan ternyata bener, dia belinya di apotik. “Zul, kalo lo mau makek, minumnya jangan tanggung-tanggung. Minimal elo minum 5 butir sekaligus biar biusnya langsung naik. Kalo aku sih sekali minum sepuluh sekaligus.” Saran cicak. “Busyet deh, ntar kalo gue oper dosis apa nggak mati cak?” tanya gue. “haha nggak lah Zul ah. Udah minum terus.” Tanpa ragu gue langsung minum pilnya lima butir sekaligus. Sambil menunggu reaksi dari obat itu, gue bawain nyanyi-nyanyi sambil main gitar. Sesekali gue tanya sama cicak, “cak biasanya berapa menit baru naek biusnya?”. Terus cicak jawab, “alah santai aja, nggak terasa tiba-tiba terbang lo ntar”. Gue masih penasaran nih gan. Karena bosen nunggu biusnya, gue putusin untuk bangun dari duduk gue terus beli rokok kewarung sebelah. Busyet deh gan, gile bener. Sekali gue berdiri, langsung deh gan gue nggak ngerasain lagi kaki gue nginjak lantai. Terus gue coba berjalan, gile... rasanya asik banget gan, seolah-olah kaki gue melayang, gue bener-bener terbang, tanpa rasa malu dan nggak kepikiran sama malu, gue rentangkan tangan gue seolah-olah itu adalah sayap, terus gue lari keliling rumahya cicak. Haha sumpah kalo gue pikir-pikir waktu sadar ni ye, mirip kaya orang gila gue. Beruntung waktu itu malam, jadi nggak ada yang liat. Cicak sih sibuk sama “Fly”nya dia. Dia ngomong-ngomong sendiri dikursi, terus sesekali dia ketawa. Haha ada-ada aja. Sejak itu gan, gue jadi biasa beli obat ke apotik. Hehe. Lo tau kan gan obat yang gue maksud itu? namanya “Pil Destro” gan, bentuknya persis kaya Bodrexin obat demam anak-anak yang warnanya kuning. Harganya juga terjangkau gan, cukup Rp5000 bisa stok buat dua hari. Selain gue bisa bener-bener lupa sama masalah gue, gue juga bisa senang-senang tanpa ngabisin banyak biaya gan.
Hehe, pokoknya kalo gue ingat masalah itu, gue sering ketawa gan, sumpah seru banget. Ini awal gue mengkonsusmsi yang aneh-aneh dalam hidup gue. Semenjak itu nggak Cuma destro, gue mulai coba miunum minuman keras kaya Bir, Scott, Mansion dan sebagainya. Tapi dari sekian banyak jenis minuman beralkohol itu yang paling terfavorit bagi gue adalah Mansion. Selain harganya terjangkau, kualitasnya juga bisa dibilang lumayan lah. Haha. Ya senggaknya bisa buat gue Fly....

***
SELANJUTNYA DI LEBIH DARI SEORANG PEMIMPI “PANGGIL AKU MARLAW”