Bahagia itu
indah, jika sesuatu yang sederhana itu menjadi sempurna. Namun kesempurnaan itu
hanyalah milik tuhan. Kita sebagai hamba senantiasa mengalami kekurangan.
Beginilah hidup. Perputaran waktu yang membuat kita semakin kuat dan menjadi
lebih kuat mempersiapkan diri mengahadapi masa yang akan datang.
Sudah hak
seorang manusia mendapatkan ujian dalam kehidupannya. Dan tak boleh dipungkiri
lagi, terkadang ujian itu terasa melebihi beban dan kesanggupan kita untuk
menghadapinya. Dari setiap persoalan yang dihadapi ada hikmah dan pelajaran
yang dapat diambil. Setelah kita dapat memahami makna dari persoalan itu,
muncul persoalan yang baru lagi.
Tak terasa
umurku sudah 22 tahun. Semua terasa terlewat begitu cepat. Saat ini aku
berharap hidupku lebih baik dari sebelumnya. Betapa tidak, persoalan yang kuhadapi bukanlah persoalan yang biasa
dihadapi remaja sekarang. Dimana mereka disibukkan dengan perasaan, cinta dan
kasih sayang dari lawan jenisnya. Persoalan yang kuhadapi seakan-akan persoalan
seorang ayah yang sudah memiliki beberapa orang anak. Kadang aku merasa, aku
belum pantas mendapatkan persoalan ini. Tapi hati ini berkata, “Hidup adalah persoalan”.
Beberapa
waktu lalu, musibah menimpa keluarga kecilku. Ayahku sakit keras dan harus
dibawa kerumah sakit. Diwaktu yang bersamaan ibuku kehilangan pekerjaannya. Tak
hanya itu, diwaktu yang sama abangku menyatakan dirinya ingin menikah. Lain
lagi dengan adikku yang sedang membutuhkan biaya yang besar untuk masuk
keperguruan tinggi. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa tak berprestasi yang
belum mempunyai pendapatan yang berarti. Aku merasa terbebani dengan persoalan
ini. Aku teringat masa-masa tergelap ku 4 tahun yang lalu, dimana beban itu
mulai menempel dalam hidupku. Entah ia tumbuh ataupun hidup, tapi aku
benar-benar merasa beban itu mengakar dan terus menjalar kesetiap waktu dimana
aku berada. Aku tak ingin terjatuh, aku mencoba terus bertahan dan berusaha
untuk berjalan mencari jalan keluar untuk meletakkan beban itu. Aku tak
menyerah, mencari cara agar aku bisa sampai kesebuah tempat yang aku yakini itu
adalah sebuah “Pilar kebahagiaan”.
Pada
masa-masa sulit itu, akhirnya selangkah telah terlewati. Keadaan ayahku mulai
membaik. Abangku telah menikah. Dan adikku telah terdaftar sebagai calon
mahasiswi disebuah perguruan tinggi. Aku sempat mengambil nafas panjang.
“Alhamdulillah” pikirku. Aku mencoba kembali melangkah, dan anehnya aku merasa
bebanku semakin berat. Sulit sekali rasanya untuk melangkah. Seolah-olah kaki
kecilku ini tak mampu untuk menahan. Aku membungkuk, berusaha untuk tetap
bertahan dan berdiri.
Aku sadar.
Ternyata ada beban baru yang sudah menanti. Memang ayahku sudah baikan dan
dibawa pulang, adikku calon mahasiswi, dan abangku calon seorang ayah nantinya.
Dengan berat hati, aku berkata “Akulah calon kepala keluarga kalian, yang
betanggung jawab untuk menafkahi kalian nantinya”. Betapa tidak, dikondisi ini
ayahku tak dapat lagi bekerja, ibuku kehilangan pkerjaannya, sedangkan abangku
sudah memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas keluarga barunya. Siapa
lagi yang memikul beban ini jika bukan aku??
Menyadari
itu air mataku mengalir dengan sendirinya. Apa yang harus kulakukan sementara
aku belum memiliki pekerjaan yang berarti. Tekanan demi tekanan terus menimpaku,
kaki kecilku tak kuat lagi menahan dan akhirnya terjatuh. Aku belum menyerah,
“ini belum berakhir, aku pasti bisa” pikirku lagi. Aku mencoba bangkit,
tanganku terus saja mencari sesuatu untuk bisa dijadikan pegangan. Berkat usaha
yang keras, aku berhasil walaupun berpijak dengan sebelah kaki . Sesaat saja aku
akan berdiri, tiba-tiba sesuatu menekanku dari atas. “ya Allah apa lagi ini”.
Belum lagi
aku bisa menyelesaikan persoalan ini, muncul lagi persoalan baru. Disaat aku
pusing memikirkan biaya hidup dimasa mendatang, ibuku mengagetkanku dengan
sebuah berita.
“Nak, Ibu
mau buat Walimahan untuk pernikahan abangmu. Ibu pengen keluarga kita semuanya
ngumpul dalam acara itu nanti” ucap ibu.
Dengan nada
yang lirih aku bertanya, “Ibu ada Uang??”
“nggak ada,
itulah makanya ibu mau cari jalan keluarnya sama kamu” jawab ibu.
Langsung
saja, tanpa basa basi aku menjawab “Bu, darimana kita bisa dapatkan uang,
sedangkan kedepannya aja kita nggak tau gimana kehidupan kita.”
Mendengar
jawabanku itu, ibuku menangis. Seakan-akan semangatnya menghilang. Sampai
beberapa hari disela-sela waktunya aku melihat ia merenung dan menangis. “tak
sampai hati pula aku meilhatnya” gumamku.
Akhirnya aku
mendapatkan jalan keluarnya. Aku langsung menghubungi ibu dan memberi tahukan
untuk mempersiapkan Walimahannya. Jelas saja, ibuku sangat bahagia. Meski
begitu, inilah pertama kali aku merasa dapat tersenyum walau terjepit. Alhasil
acara lancar tanpa ada hambatan.
Sehari
setelahnya, musibah itu kembali datang. Istana kecilku dijamah orang. Aku tak
habis pikir, kenapa aku bisa tidur begitu lelap sehingga sampah masyarakat itu
bisa masuk kedalam rumahku. Uang dan telpon genggamku raib. “subhanallah, apa
lagi ini”? pikirku lagi.
Mengetahui
itulah beban yang menimpaku, seketika aku terjatuh dan tak tahu bagaimana cara
untuk bisa bangkit dan berdiri lagi. Hanya, dalam khayalku, “semuanya baik-baik
saja, aku masih punya mimpi yang akan kugapai”
~Hidup Masih
panjang Bronds~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar